“Malam itu, korban bermalam di rumah keponakannya. Keesokan harinya, Minggu (4/10) sekitar pukul 17.00 WITA, Petrus kembali ke rumah kebunnya,” sebutnya.
Sejak saat itu, korban diketahui tinggal seorang diri di rumah yang berada cukup jauh dari permukiman warga. Jarak rumah kebun tersebut dengan rumah tetangga terdekat diperkirakan mencapai 1,5 kilometer.
Pada Rabu (7/10), salah seorang anggota keluarga sempat mendatangi rumah korban untuk memetik asam. Namun, saat itu Petrus tidak ditemukan di rumahnya. Jasadnya baru ditemukan dua hari setelah kunjungan anggota keluarga tersebut.
Keterangan keluarga juga menyebutkan bahwa Petrus memiliki riwayat penyakit asma selama kurang lebih dua tahun. Penyakit itu kerap kambuh, tetapi korban disebut tidak pernah menjalani pengobatan di Puskesmas Takari. Meski demikian, riwayat penyakit tersebut belum dapat dipastikan sebagai penyebab kematian korban.
Lebih jauh, kata Ipda Randy, petugas medis menduga kerusakan pada bagian kepala dan kaki berkaitan dengan aktivitas binatang, mengingat ditemukan tanda-tanda gigitan pada tubuh korban.Namun, dugaan tersebut tidak serta-merta menjelaskan penyebab kematian Petrus. Pemeriksaan luar yang telah dilakukan belum cukup untuk memastikan bagaimana korban meninggal dunia.
Pihak keluarga menyatakan menerima kejadian itu sebagai musibah dan menolak dilakukan autopsi. Penolakan tersebut dituangkan dalam surat pernyataan yang dibuat keluarga korban. (*)








Tidak ada Respon