Johni berharap kepemimpinan kepala sekolah mampu menghadirkan lingkungan pembelajaran yang mindful, joyful, dan meaningful. Artinya, sekolah harus menjadi tempat yang mendukung proses belajar secara sadar, menyenangkan, dan bermakna bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.
Karena itu, keberhasilan diklat semestinya tidak hanya dilihat dari jumlah peserta yang mengikuti kegiatan atau materi yang telah disampaikan. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana para peserta mengimplementasikan kompetensi yang diperoleh ketika dipercaya memimpin satuan pendidikan.
Salah satu perwakilan peserta menyampaikan bahwa diklat tersebut memberikan manfaat bagi para kepala sekolah dan calon kepala sekolah dalam menjalankan tugas ke depan. Selama kegiatan, peserta mengikuti beragam materi dan pembelajaran, disertai aktivitas olahraga pagi hingga kegiatan malam hari.
Perwakilan peserta itu juga menegaskan komitmen untuk menerapkan tata kelola sekolah yang efektif, efisien, akuntabel, dan berkelanjutan. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat diteruskan kepada guru dan peserta didik demi meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar.
Komitmen tersebut menjadi penting agar pembekalan selama diklat tidak berhenti sebagai pengalaman pelatihan, tetapi berlanjut menjadi praktik kepemimpinan yang berdampak di lingkungan sekolah.
Johni pun berharap para calon kepala sekolah mampu meninggalkan perubahan positif selama menjalankan tanggung jawabnya. Dengan demikian, diklat kepemimpinan dapat menjadi salah satu langkah untuk memperkuat tata kelola sekolah sekaligus mendorong peningkatan mutu pendidikan di NTT. (cr6)









Tidak ada Respon