Mengutip pemikiran dalam buku Menatap Masa Depan karya Pdt Samuel Pandie dan rekan-rekan, Johni menekankan pentingnya kehadiran gereja dalam melihat serta merespons kebutuhan masyarakat.
“Gereja itu tidak hanya ada di mimbar-mimbar dalam gereja, tetapi gereja harus turun ke masyarakat dan melihat apa permasalahan yang dihadapi masyarakat. Pelayanan kita harus menjangkau ke luar, bukan hanya di dalam,” katanya.

Sementara itu, Ketua Panitia Pembangunan Gedung Gereja GMIT Golgota Alak, Christian Baitanu, mengatakan pembangunan gedung tersebut merupakan hasil komitmen, kerja sama, dan perjuangan panjang jemaat bersama pemerintah serta para donatur.
Peletakan batu pertama dilakukan pada 7 September 2021 oleh Ketua Majelis GMIT Golgota Alak. Pembangunan kemudian berjalan di tengah berbagai keterbatasan hingga akhirnya gedung kebaktian berdiri di atas lahan seluas 930 meter persegi.
Christian menyebut dukungan swadaya jemaat, pemerintah, dan para donatur menjadi bagian penting dalam mewujudkan kerinduan jemaat setelah melalui proses pembangunan selama kurang lebih lima tahun.
Panitia juga sedang mengumpulkan data dan dokumentasi perjalanan pembangunan gereja untuk disusun menjadi buku sejarah GMIT Golgota Alak yang direncanakan terbit tahun mendatang. “Buku tersebut diharapkan menjadi catatan perjuangan iman dan semangat pengorbanan generasi terdahulu bagi generasi penerus,” pungkasnya.
Peresmian dan syukuran itu turut dihadiri Ketua Majelis Sinode GMIT, Pendeta Samuel Pandie, para pendeta, anggota DPRD Kabupaten Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang, Camat Alak, Lurah Alak, Ketua Klasis Kota Kupang Barat beserta jajaran, serta para presbiter dan jemaat GMIT Golgota Alak. (*)










Tidak ada Respon