
Selain melihat fasilitas pembangkit, rombongan juga mendapat penjelasan mengenai proses teknis pengolahan fluida panas bumi hingga menghasilkan energi listrik.
Manager Business Support PGE Lahendong, Rinson Gultom, menjelaskan, proses pembangkitan listrik dimulai dari pengambilan fluida panas bumi berupa campuran uap dan air dari sumur produksi.
Campuran tersebut kemudian dipisahkan menggunakan separator. Air yang terangkat bersama uap didinginkan sebelum diinjeksi kembali ke dalam perut bumi, sedangkan uapnya dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin.
“Air yang terangkat bersama uap dipisahkan. Setelah didinginkan, air tersebut kami injeksikan kembali ke perut bumi. Sementara uapnya digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik,” jelas Rinson.
Selanjutnya, turbin menggerakkan generator untuk menghasilkan energi listrik. Listrik tersebut kemudian diteruskan melalui fasilitas switchyard menuju jaringan PLN sebelum disalurkan kepada masyarakat.
Melalui penjelasan tersebut, Johni dan rombongan memperoleh gambaran mengenai teknologi, siklus pembangkitan serta pengelolaan operasional pembangkit panas bumi yang dapat menjadi referensi bagi pengembangan potensi serupa di NTT.
Dalam kunjungan tersebut, Johni didampingi Kepala Biro Perekonomian dan Administrasi Pembangunan Setda NTT, Selfi H. Nange; Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral NTT, Viktor Manek; serta Kepala Badan Penghubung NTT Jakarta, Florida Taty Satyawati, ST.
Turut hadir peneliti dari Purnomo Yusgiantoro Center, yakni Senior Consultant Farida Zed, Koordinator Departemen Penelitian Nadira Asrifa, serta staf peneliti Ahmad Munawir dan Hizkia Posumah.
Sementara itu, rombongan diterima Manager HSSE PGE Lahendong, Lerry Wenur, bersama Manager Business Support Rinson Gultom dan tim. (*)












Tidak ada Respon