Eko menambahkan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik turut mendukung target Indonesia mencapai Net Zero Emission pada 2060 atau lebih cepat, serta sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034.
Dalam rencana tersebut, dari total penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt (GW), sekitar 52,9 GW atau 76 persen dialokasikan untuk energi baru terbarukan dan sistem penyimpanan energi.
Menurut Eko, NTT memiliki potensi energi terbarukan yang besar, terutama energi surya, yang dapat dikembangkan untuk mendukung transisi energi.
“Pengembangan kendaraan listrik harus berjalan beriringan dengan optimalisasi energi baru terbarukan agar manfaat pengurangan emisi benar-benar dapat kita rasakan. Listrik tidak hanya menggerakkan kendaraan, tetapi juga menjadi bagian dari solusi menuju masa depan yang lebih hijau,” jelasnya. (*)












Tidak ada Respon